Petaka di Songgoriti

9 07 2009

“Siap?” tanyaku pada Yanti. Sie Dana Usaha Writing Camp se-Jatim.
“Kita kemana saja Mbak?” dia balik bertanya.
“Hari ini agenda kita, ke Ruli (sekretaris) untuk ngambil proposal. UIN ketemuan dengan Mbak Ika buat bagi tugas, Agrowisata Batu, SMA Ar-Rohmah Putra dan Putri, serta SMA 8. InsyaAllah Dhuhur selesai kok,” karena setelah Dhuhur, Yanti ada acara.
“Ok, Mbak.”
Setelah bertemu Ruli dan Mbak Ika kami meluncur ke Agrowisata Batu untuk menindak lanjuti proposal yang kami kirim sekitar 3-4 minggu yang lalu. Perjalanan ke Agrowisata kali ini adalah pengalaman pertama kami. Karena dulu yang menyerahkan Pak Lufi, tapi karena hari ini beliau sibuk dengan urusan kantor, jadi gantian.
Seperti apa yang ditakutkan sebelumnya. Kami benar-benar nyasar di daerah yang belum kami kenal. Ya, kami hanya diberi ancer-ancer saja. Aksi tanya menanya pun terjadi. Alhamdulillah sampe juga.
Orang pertama yang kami temui adalah Pak Satpam. Ehm.. beliau dengan ramah bertanya tujuan kami. Kamipun bercerita dengan fasihnya tentang rencana writing camp ini.
“Proposal ditujukan ke mana Mbak?”
“Personalia Pak,”
“Wah, disini bagian hotel. Personalia di kantor Agrowisata,” ternyata kami salah tempat! Bapak Satpam pun menunjukkan kantor yang dimaksud.
Tanpa ba bi bu lagi kami segera meluncur. Hwua… jalan menuju kantor benar-benar makadam! Jadi pijat refleksi deh…
“Yang mana ya Mbak?”
“Kita cari dulu, katanyasebelah kiri dan dekat bambu-bambu gitu,”
“Itu mungkin,”
“Ya sepertinya,”
Memasuki kawasan agrowisata kami disambut bapak satpam lagi. Beliau menghubungkan kami dengan bagian personalia melalui telepon. Tapi kok nggak diangkat-angkat ya…
“Personalia hotelkan Mbak?”
“Personalia Agro Pak,”
“Ooo, beliau menekan nomor yang berbeda.,” wah, ternyata Agrowisata ini mempunyai jenis usaha bermacam-macam.
Menunggu dan menunggu, tapi kok tidak ada yang mengangkat ya. Padahal ini jam kantor. Akhirnya kuputuskan untuk minta izin masuk buat nego kerjasama. Alhamdulillah diizinkan.
Kamipun masuk di ruangan personalia. Ada bapak yang ramah menyambut kami. Pertama kami menanyakan perihal proposal yang sudah dikirim sejak 3-4 minggu yang lalu. Namun apa yang terjadi… pihak Agro merasa belum menerima proposal dari kami.
Akupun mengeluarkan proposal baru untuk Agro. Dengan gaya meyakinkan kuceritakan maksud proposal yang kami bawa. Beliau sepertinya tertarik. Alhamdulillah.
“Maaf sebelumnya Mbak. Karena sekarang sedang masa pergantian jabatan. Jadi kami belum bias memutuskan. Apalagi hari ini bagian personalia tidak masuk karena izin ke rumah sakit. Jadi proposal bisa ditinggal dulu, dan bla bla bla..” Hwua.. ternyata!
Sabar Zie, sabar Zie, kuelus-elus dadaku berulang kali.
“Kemana lagi Mbak?”
“SMA Ar-Rohmah, tapi aku lupa jalannya.”
“Terus?”
“Ke Radio Mitra dulu ya, aku kenal ma pimpinannya. Semoga beliau ada, jadi bisa dicurhatin,” Sepeda menuju Radio Mitra Batu.
Di tengah jalan, masih daerah Songgoriti, nampak dua bus saling mendahului, “Piuh, gimana sih sopirnya. Jalannya kan sempit!” perkataanku diiyakan Yanti.
Beberapa detik kemudian, bus bagian belakang berhasil mendahului. Lha tepat ketika mereka berjalan beriringan, salah satu bus berada tepat di depan kami. Yanti dan aku hanya bisa berdoa. Dengan mendadak, Yanti banting setir ke keiri, ke arah semak-semak.
BRUAAAK.. kami berdua jatuh di bebatuan. Alhamdulillah bukan sungai atau selokan, karena beberapa jalan, pinggirnya adalah selokan. Dua bus terus melaju menjauhi kami tanpa ada rasa bersalah. Tidak ada luka, hanya kaget.
“Mbak, ada yang luka?” tanya Yanti.
“Seharusnya aku yang tanya, anti nggak apa-apa?” karena sebagian tubuhnya tertindih sepeda.
“Nggak,” sambil menegakkan sepeda.
“Ana juga nggak apa-apa,”
Dia menaiki sepeda kembali, begitu juga diri ini.
“Anti benar-benar nggak apa-apa kan?”
“Iya Mbak,”
“Nggak ada air ya, biasanya kalau kaget minum dulu. Ehm, pelan-pelan saja ya,” Yanti mengiyakan.
Memang jalan di Batu itu berkelok-kelok, apalagi daerah perkampungan. Berkelok-kelok, naik turun, dan tidak terlalu lebar.
Alhamdulillah sampai di Radio Mitra.
“Kok, ditutup?” tanya Yanti.
“Mungkin masih siaran,” kami mencoba mendorong dan menarik pintu. Tapi tidak berhasil.
“Biasanya aku dan temanku langsung masuk, hehehe, tapi sekarang kok g bisa,”
Kuamati si pintu, kucoba menarik dan mendorongnya ke dalam. Tetap g bisa! Gak ada bel lagi. Tanganku mencoba menggeser si pintu.
MasyaAllah, ternyata digeser. Mengapa dulu aku tidak pernah mengamati temanku pas buka pintu ya. Aku dan Yanti tertawa. MasyaAllah ternyata…
“Assalamu’alaikum,” salam berulang kali tidak ada balasan.
Coba kita tunggu dulu, siapa tahu lagi on air. Dan benar! Beberapa menit kemudian, turunlan salah satu pegawai. Duh aku lupa namanya…kalau nggak salah Pak Wasim.
“Ya ada yang bisa saya bantu?” Tanya beliau.
“Pak Haris ada?”
“Masih siaran, nunggu di atas saja,”
“Di bawah saja Mbak,” tawar Yanti.
“Saya tunggu di bawah saja,”
“Di atas nggak apa-apa,”
“Di bawah, di atas, di bawah, ya dah di atas,” akhirnya kami menuju lantai dua.
Terdengar suara Pak Haris sedang siaran. Beberapa menit kemudian beliau menemui kami. Obrolan pun dimulai. Kuceritakan maksud kedatanganku di sini.
“Ok, Mbak bisa. Terkait kerjasama saya lihat proposalnya dahulu,” aku baru sadar kalau proposal cadangan sudah kuberikan Agrowisata.
“Ehm, proposalnya menyusul ya Pak, afwan,” beliau tersenyum mengiyakan.
Sebelum pamit tak lupa diri ini Tanya alamat SMA Ar-Rohmah. O ya, Radio Mitra ini dibawah naungan Hidayatullah, SMA Ar-Rohmah juga. selain dua instansi ini ada juga majalah, BMH, dan lain-lain. Salut deh buat Hidayatullah.
Perjalanan ke SMA Ar-Rohmah Putra dan Putri tak kalah menantang. Jalannya naik turun. Dengan mengikuti petunjuk kami meluncur.
“Mbak, masak kita ke pondok pria? Gimana kalau dititipkan di bagian putri?” tanya Yanti saat memasuki wilayah pesantren putri.
“Kupikir juga begitu.”
Di pesantern putri kami bercakap-cakap dengan ibu di bagian humas, karena saat itu bagian kesiswaan sedang ada acara. Dari percakapan, aku menarik kesimpulan kalau kesiswaan antara laki-laki dan perempuan terpisah. Jadi mau tidak mau kami harus ke pesantren pa.
Sesampai di pesantren putra, kami canggung berat! Nggak PD! Apalagi kesan pertama dah malu. Kami salah parkir.
But, gimana lagi kami sudah masuk kantor jadi sulit rasanya untuk keluar. Beberapa saat kemudian keluar salah satu guru atau apa, nggak paham (afwan). Di hadapan beliau, mulut ini terkunci! Piuh, suungguh rasanya saat itu aku ingin pake cadar! Seperti di sarang penyamun saja. Yanti juga tidak jauh beda.
Keluar dari kantor adalah hal terindah waktu itu. Rencana semula mau numpang sholat di masjid pondok nggak jadi. Kami segera meluncur melarikan diri.
“Piuh Mbak, seperti mau nemukan manten saja,” aku tertawa mendengar pernyataan Yanti.
“Iya, ya?” kamipun tertawa.
“Mbak, tahu nggak sih aku dari tadi belum mandi,”
“Hwua? Masak?”
“Habis dingin!” ya sih, memang hari ini dingin banget.
“Untung kita tidak berkeringat,” hehehe…
Alhamdulillah kelar! Ups satu lagi ding… SMAN 8 Malang…
Robbi, tolong permudah dan ridhoi langkah kami ini… Amin.





Membeli Buku karena Endorsement? (alhamdulillah dimuat di Surya)

4 02 2009

Apa motivasi terbesar Anda saat ingin membeli buku? Karena memang butuh? Sekadar membelanjakan uang? Karena terpengaruh cerita teman tentang isi buku? Atau karena tertarik langsung saat melihat-lihat buku tersebut? Tentu antarkita berbeda alasan untuk membeli buku. Terkadang kita memang benar-benar membutuhkan buku tersebut, tetapi terkadang bisa saja tanpa terencana lebih dulu untuk membelinya.
Saat berada di toko buku, kita pasti melihat dan memilah buku mana yang hendak kita beli. Sekarang kita ingat-ingat, seberapa sering kita membeli buku tanpa kita rencanakan seleumnya. Dari rumah, kita sekadar ingin main ke toko buku, kalau ada buku yang kira-kira bagus ya kita beli, kalau tidak ya tidak beli. Apakah sering seperti itu?
Lalu, apa kira-kira yang membuat Anda tertarik untuk memilih sebuah buku untuk Anda beli? Apakah kita pernah memerhatikan, sekarang ini hampir di seluruh sampul buku selalu ada endorsement yang bertujuan untuk menarik para pembeli? Endorsement adalah komentar atau semacam testimony seseorang terhadap isi sebuah buku. Bisa jadi, kita tertarik membeli buku karena ‘tergoda’ oleh endorsement yang ditampilkan di sampul buku tersebut.
Endorsement memang diakui banyak penerbit sebagai alat jitu untuk mendongkrak pemasaran. Biasanya, para endorser atau orang yang memberi komentar terhadap sebuah buku memang bukan ‘orang sembarangan’. Bisa saja seorang pakar di bidang yang sesuai dengan tema buku tersebut, bisa dari kalangan public figure yang sedang menjadi sorotan, pejabat, atau penulis. Hal ini memang wajar dan sah-sah saja, hanya saja yang menjadi perhatian kita adalah jangan sampai setelah kita membeli buku merasa tertipu karena apa yang diutarakan dalam endorsement ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan isi buku. Dan hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ada dua penyebab yang mungkin saja terjadi. Pertama, sang endorser tidak membaca dengan jeli seluruh isi buku, tapi ketika diminta penerbit untuk memberi komentar tentu saja adalah komentar yang menarik (baca memuji buku), padahal sebenarnya kualitas buku tersebut kurang baik. Sehingga antara kualitas buku dan isi komentar tidak sinkron. Kemungkinan kedua adalah endorser tidak membuat komentar sendiri, akan tetapi hanya ‘dipinjam” namanya, dan komentar itu dibuat oleh penerbit, dan tentu demi pemasaran-meski tidak sesuai dengan isi buku-komentar pun dibuat yang menarik.
Tulisan ini semoga menjadi perhatian bagi kita ketika hendak membeli buku. Kita bisa saja menjadikan endorsement sebagai bahan pertimbangan dalam membeli buku, akan tetapi tidak ada salah jika kritis terhadap endorsement. Jika sekadar informasi yang berisi ringkasan isi buku masih wajar kita jadikan rujukan seperti apa isi buku tersebut, akan tetapi jika endorsement sudah sampai pada tingkat berlebihan dalam memuji sebuah buku, layak untuk kita waspadai.

Pengirim: Karkono Supadi Putra, dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. email kamajaya_wijaya@yahoo.com.





Gelisah dengan Tayangan Sinetron (dimuat di Surya)

4 02 2009

Oleh Karkono Supadi Putra*

Persoalan terkait tayangan yang ada di televisi bukanlah hal baru. Mulai sajian acara yang kurang mendidik sampai persoalan jam tayang yang kurang tepat hingga kini tetap dirasakan oleh masyarakat. Namun, dari waktu ke waktu belumlah ada solusi yang menunjukkan ke arah perbaikan. Beberapa keluarga ada yang memilih meniadakan televisi di rumah untuk ‘mengamankan’ keluarga dari tayangan-tayangan yang dianggap kurang mendidik, ada yang mengatur jadwal-hanya jam-jam tertentu saja dinyalakan-dan ada yang pada akhirnya memilih masa bodoh.
Jika taat pada peraturan, memang seharusnya semua tayangan yang hadir di televisi melewati badan sensor. Namun, kita sendiri tahu, ada berapa banyak stasiun televisi di Indonesia dan semuanya tayang hampir 24 jam dalam sehari semalam. Kita dapat membayangkan, kapan waktu untuk menyensor semua tayangan itu? Kondisi ini pada akhirnya memungkinkan banyak tayangan-tayangan yang tidak disensor terlebih dahulu sebelum ditayangkan. Sensor langsung dari masyarakatlah yang seharusnya bisa mengontrol kualitas tayangan-tayangan tersebut.
Beberapa waktu lalu, tayangan Empat Mata yang diputar di Trans 7 diberhentikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Tayangan yang digawangai oleh Tukhul Arwana tersebut dianggap melanggar etika ketika dalam salah satu episodenya menghadirkan bintang tamu Sumanto yang makan katak hidup-hidup. Dalam beberapa waktu tayangan tersebut memang benar-benar berhenti, tetapi tayangan tersebut kini kembali hadir meski dengan label acara yang sedikit berbeda yaitu Bukan Empat Mata. Jika kita cermati, konsep acara tersebut tidak banyak megalami perubahan dari acara Empat Mata sebelumnya. Kasus ini menandakan bahwa sebenarnya ada lembaga yang berwenang secara hukum untuk mengontrol sebuah acara di televisi selain badan sensor. Oleh sebab itu, ketika kita merasa gelisah dengan tayangan yang ada di televisi, kita bisa saja membuat aduan ke KPI.
Beberapa tayangan di televisi yang sering menggelisahkan masyarakat adalah tayangan sinetron di beberapa stasiun televisi. Salah satu tayangan sinetron tersebut adalah sinetron Muslimah yang tayang setiap hari di Indosiar. Di beberapa milis di internet, sinetron Muslimah sudah menjadi perbincangan hangat masyarakat seputar banyaknya adegan yang dianggap kurang mendidik. Selain bertebaran kata-kata kotor, tindakan-tindakan yang semaunya (misalnya main pukul dan tampar) selalu saja mewarnai setiap adegannya. Banyak ibu-ibu yang resah karena sinetron ini diputar di sore hari, pukul 18.00 sampai pukul 19.00, sehingga anak-anak masih banyak yang menontonnya. Secara umum memang acara ini untuk segala umur, akan tetapi jika banyak kata-kata kotor dan tindakan kasar, bukan tidak mungkin ini menjadi kekhawatiran bagi orang tua jika sampai anak-anaknya terkena dampak negatifnya.
Sinetron ini mulai tayang sejak tanggal 1 September 2008, tepat saat memasuki bulan Ramadhan. Selain dapat dilihat dari judulnya, momen mulai tayang saat bulan Ramadhan menandakan bahwa sinetron ini berlabel religi Islam. Hal ini pula yang sering diperbincangkan. Barangkali jika mempersoalkan esensi sinetron religi tetapi jauh dari nilai religi tidak semua orang sepakat. Ada hal lain yang layak dipersoalkan pada sinetron Muslimah dari beragam kaca mata pemikiran dan latar belakang pemirsanya, yaitu dari sisi kelogisan cerita. Orang awam pun akan dengan mudah mengatakan bahwa banyak hal di sinetron ini yang tidak logis. Ya, ketidaklogisan jalinan cerita dan kekurangkonsistenan karakter tokoh-tokohnya adalah masalah utama dalam sinetron ini. Demi mengulur waktu-bahkan hingga kini sudah mencapai 140-an episode-banyak konflik cerita dan dialog yang diulang-ulang.
Kita bisa saja mengatakan jika tidak suka ya tidak perlu ditonton. Namun, apakah hal tersebut menyelesaikan persoalan? Apakah kita sudah memikirkan bagaimana seandainya banyak sisi negatif yang diterima masyarakat akibat menyaksikan tayangan tersebut tetapi mereka tidak menyadarinya? Kondisi real yang terjadi di masyarakat yang menyaksikan tayangan tersebut adalah mereka pada dasarnya gemas dan keberatan dengan tayangan tersebut, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya pasrah saja.
Lalu bagaimana langkah konkret yang bisa diambil?
Sinetron Muslimah tentu tidak hanya berisi hal-hal negatif seperti yang digelisahkan banyak orang (saya tahu hal ini dari para blogger), ada juga sisi-sisi positif yang hendak disampaikan oleh para pembuatnya. Kita tidak bisa secara frontal menyalahkan atau bahkan meminta untuk diberhentikan. Hal-hal mendasar yang memang disa diubah/diperbaiki memang seharusnya diperbaiki. Jangan pula bagi para pembuatnya dengan dalih memotret realita yang ada di masyarakat lalu seenaknya saja membuat sebuah sinetron tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan.
Dalam pemikiran saya, sinetron Muslimah cukup berhasil memikat banyak orang karena bisa membuat orang penasaran menunggu bagaimana kelanjutan ceritanya. Misalnya kapan saatnya Muslimah (tokoh utama dalam sinetron tersebut) akan merasakan kebahagiaan dan lepas dari penderitaan akibat ulah orang-orang yang tidak menyukaianya. Moment yang dinantikan ini seperti diulur-ulur supaya menjadi cerita panjang. Dengan kelebihan yang dimiliki sinetron ini, bukan berarti harus menghilangkan unsur kelogisan cerita. Justru, tantangan tersendiri bagi penulis ceritanya bagaimana tetap membuat cerita tetap memikat tanpa mengesampingkan unsur kelogisan cerita dan mengurangi tindak kekerasan para tokoh-tokohnya.
Sebagai penonton, ada hal yang bisa kita lakukan untuk mengkritisi tayangan sinetron ini. Kita bisa membuat aduan melalui KPI yaitu dengan menulis aduan kita di form aduan yang ada di website KPI. Sampaikan saja apa yang menjadi keberatan kita, karena kita mempunyai hak untuk melakukan hal itu. Jika KPI pernah memberhentikan acara Empat Mata, tentu bukan perkara sulit untuk mengontrol tayangan sinetron Muslimah dan sejenisnya. Hal ini tetu lebih bijak kita lakukan dari pada sekadar mencemooh di sana-sini tetapi bukan pada kran yang tepat. Atau sekadar pasrah dengan hati jengkel karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, bagi masyarakat yang berdomisili di Malang Raya yang sekarang tidak banyak pilihan untuk menyaksikan tayangan televisi, prosentase yang menyaksikan sinetron Muslimah barangkali lebih banyak dibanding di daerah lain yang memiliki banyak alternatif.

*Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.
sedang menempuh pendidikan di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.





Sayembara Menulis Cerpen se-Jawa Timur

2 01 2009

Forum Lingkar Pena (FLP)
Universitas Negeri Malang

mempersembahkan

Sayembara Menulis Cerpen se-Jawa Timur
dan Peluncuran Buku Kumpulan Cerpen FLP Ranting Universitas Negeri Malang “Aku Ingin Melukis Wajahmu”

Syarat:
1.Sayembara ini terbuka untuk umum (semua usia) yang berdomisili di wilayah Jawa Timur.
2.Tema cerpen bebas, dianjurkan dapat memberi inspirasi positif bagi yang membacanya.
3.Karya cerpen harus asli, bukan terjemahan atau menyadur dari karya orang lain, tidak sedang diikutkan pada sayembara lain, dan belum pernah dipublikasikan ke media mana pun. Cerpen ditulis menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.
4.Cerpen diketik di atas kertas HVS ukuran A4, memakai font Arial 12. Panjang naskah antara 5 – 10 halaman, spasi 1,5.
5.Tidak membubuhkan identitas penulis di lembar cerpen.
6.Dikirim rangkap tiga, disertai biodata lengkap (halaman tersendiri), foto Copy kartu identitas, dan dimasukkan ke dalam amplop tertutup. Bisa diserahkan langsung ke panitia, atau bisa juga dikirim pos ke alamat: Panitia Sayembara Menulis Cerpen FLP UM, Fauziah Rachmawati, JL. Terusan Ambarawa Gang III, No. 4A Malang, 65145. Naskah diterima panitia paling lambat tanggal 28 Januari 2009.
7.Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah terbaiknya.
8.Biaya Pendaftaran, ada dua pilihan:
A. Rp 30.000,- (fasilitas: sertifikat, tiket peluncuran buku, snack, dan buku kumcer FLP Aku Ingin Melukis Wajahmu dengan harga Rp 28.000,-).
B.Rp 15.000 ( fasilitas sama piont A, tanpa buku).
Bagi yang berdomisili di luar Malang Raya pembayaran pendaftaran bisa transfer ke Bank Muamalat atas nama Fauziah Rachmawati no. Rekening 601923 914 1312199, atau No. Rekening BNI UGM: 0132294546, atas nama Karkono. Bukti transfer dikirim bersama naskah lomba. Pendaftaran secara kolektif juga dapat (misalnya satu sekolah), naskah bisa dijadikan dalam satu amplop dan pembayaran bisa kolektif sekali transfer.
Untuk Informasi lain terkait sayembara cerpen bisa menghubungi Ruli, 085735002526. Bisa juga mengunjungi blog http://www.flprantingum.multiply.com

Hadiah bagi pemenang:
Juara I : Trofi, sertifikat, dan uang Rp 500.000,-
Juara II : Trofi, sertifikat, dan uang Rp 350.000,-
Juara III : Trofi, sertifikat, dan uang Rp 250.000,-

Pengumuman dan Launching buku
Ahad, 1 Februari 2009.
Aula Utama Gedung A3 lantai 2,
Kampus UM, Jl. Surabaya No. 6 Malang.
Jam. 08.00 – 11.30 WIB.
Acara: Peluncuran Buku Kumpulan Cerpen FLP UM dan Pengumuman Pemenang Sayembara Cerpen
se-Jawa Timur.
Menghadirkan:
AFIFAH AFRA
(Penulis dari FLP Jawa Tengah yang sudah menghasilkan sekitar 30 judul buku).
HTM: Rp 7.000,-
Pemesanan tiket: Erna (085648947467)

Acara ini berkat kerjasama
FLP Ranting UM
Indosat
Indiva
Yasa
Rumah Zakat
Radio Citra
Suzuki Tlogomas
Mazidah





Alhamdulillah..Akhirnya Terbit

27 12 2008

Aku Ingin Melukis Wajahmu

Aku Ingin Melukis Wajahmu


Buat yang pingin tahu cerpen2 yang pernah menang lomba…
buku ini jawabannya..
satu antologi cerpen persembahan FLP Ranting UM…

berisi kumpulan karya FLPers… yang pernah menang lomba, gol media, dan banyak cerpen berbobot lainnya..
jangan lewatkan ya!

InsyaAllah…
terbit awal Januari
mohon doanya…
kalo tidak ada halangan launching akan diadakan tanggal 1 Februari..





Kecewa pada Pemilik Ilham Galery

27 12 2008

ilham galery

Jum’at, 5 Desember yang lalu saya memesan kerajinan rotan pada Ilham Galery. Kerajinan ini adalah tugas salah satu mata kuliah yang saya ikuti. Perlu digaris bawahi bahwa dosen tidak melihat siapa yang membuat, entah membuat sendiri atau dibuatkan, yang dinilai adalah hasil akhir media tersebut. Karena media saya berkaitan dengan rotan dan keterampilan teknik, jadi saya konsultasi ke dosen teknik dan memesan rancangan rotan.

Langkah awal saya memesan rangka dari rotan ke Ilham Galery. Namun apa yang terjadi, selama 16 hari pesanan saya sama sekali belum dikerjakan. Padahal selama 16 hari tersebut saya sudah lima kali kesana untuk menanyakan. Tapi selalu hanya diberi janji.
Mendekati hari pengumpulan saya kesana lagi, untuk mengambil. Tapi apa yang saya dapat? Pesanan saya tetap belum dikerjakan, dengan alasan tidak ada baja (sudah mencari kemana-mana tidak ada), tukang masih pulang kampung dan kembali Senin, padahal Senin adalah hari pengumpulan. Sebelum saya pulang, saya diberi kerangka luarnya saja (biarpun belum sesuai dengan pesanan) untuk ditunjukkan kepada dosen. Saya masih sabar dan menurut, ditambah beliau mengatakan kalau Selasa sudah bisa diambil. Saya pikir dosen akan memaafkan dan memaklumi keterlambatan saya. Saya juga membelikan baja yang ternyata mudah ditemukan di Pasar Besar Malang.

Sampai hari Selasa pagi, ini adalah keenam kalinya saya bertandang kesana. Betapa kagetnya saya, ketika pemilik Galery tidak ada di tempat dan karyawan tidak tahu tentang hal ihwal pesanan saya. Pagi itu saya dibuat shok berat. Saya sudah mendapat pengurangan nilai dari dosen karena keterlambatan ini, apalagi kalau tambah molor.
Saya telepon pemilik Galery tidak diangkat, saya SMS tidak dibalas. Ketika ditelepon dari telepon Galery beliau mengangkat, tapi ketika mendengar suara saya, langsung ditutup. Saya benar-benar marah saat itu. Ini masalah nilai dan lulus tidaknya saya!

Alhamdulillah karyawan tanggap, saya diminta menggambarkan rancangannya, mereka bermaksud membuatkan pagi itu juga. Tapi agak lama, saya mengiyakan. Karena ada jam kuliah, saya kembali ke kampus. Sepulang kuliah (sekitar 16.00) kembali saya kesana. Kembali saya dibuat kecewa, pesanan lagi-lagi tidak sesuai rancangan!
Ditambah perkataan beliau yang membuat saya mengelus dada, “Harusnya yang membuat media ini anak teknik, anak pendidikan tidak pantas membuat ini!” MasyaAllah….tega-teganya beliau berkata begitu pada saya yang notabenenya mahasiswa pendidikan. Apakah kami yang kurang begitu mengerti masalah teknik tidak pantas mempunyai ide yang membutuhkan bantuan orang teknik?

Karena rasa kecewa yang sangat dan malas berurusan dengan pemilik toko kerajinan itu lagi, akhirnya saya membuat media lain. Tapi tetap menyerahkan media yang 25% itu. Dengan harapan dosen mempertimbangkan usaha saya selama ini. Tapi ketika saya ke rumah bapak dosen, yang dinilai hanyalah media yang baru, beliau sama sekli tidak melirik media yang prosesnya butuh perjuangan itu.

Saya tidak menyalahkan atau kecewa pada bapak dosen. Memang ini salah saya. Tapi tidak seperti ini jika media yang saya pesan 18 hari yang lalu bisa jadi ontime. Buat bapak pemilik Ilham Galery daerah Bale Arjosari, bagaimana pertanggungjawaban bapak terhadap amanah ini. Tak adakah bapak merasa kasihan pada saya yang masih berstatus mahasiswa? Bagaimana kalau hal ini terjadi pada anak bapak? Apakah bapak terima, kalau sampai anak bapak tidak lulus atau mendapat nilai jelek karena masalah seperti ini? Mohon jawaban. Saya sudah capek menghubungi Bapak, karena selalu tidak ada respon. Semoga dengan surat pembaca ini, bapak bisa mengerti keadaan saya. Terimakasih.

Fauziah Rachmawati
Mahasiswa S-1 PGSD Universitas Negeri Malang Angkatan 2007
Guru SDN Sumberpucung VII
duniazie@gmail.com





Free E-Book – From IBSN (BUKU GRATIS dari IBSN)

13 12 2008

******
Posting ini saya pakai mode STICKY POST – jadi nongol terus di bagian atas, sedangkan postingan saya tanggal sesudah ini berada dibawahnya🙂

*****
Download disini

atau disini

***
Tulisan Aslinya di Blog saya ini

***

Alhamdulillah, hanya itu yang bisa saya ucapkan. Sejak saya berkampanye indahnya berbagi di blog, satu persatu dari para blogger menyambut seruan itu.

Adalah Mas Deni Pradana yang membantu saya menjadikan kampanye itu semakin nyata, dengan dibuatnya Nama dan Banner dari kampanye kami. Indonesians’ Beautiful Sharing Network. Dan di luar dugaan kami, sambutan dan dukungan dari para blogger lain mulai berdatangan. Akhirnya tercetuslah sebuah jaringan dan persahabatan melalui jaringan berbagi ini.

Di IBSN ini selalu banyak kejutan, yang terbaru adalah IBSN Award yang memang pernah kami gagas, dan alhamdulillah sambutannya bagus. Baca entri selengkapnya »